Articles

now browsing by category

 

Kerajinan perak di Indonesia

Seni kerajinan perak adalah salah satu bentuk ketrampilan yang cukup dihargai. Di Indonesia sendiri terdapat beberapa pusat kerajinan perak. Di Jawa ada di Kotagede (Yogyakarta), Bangil (Jawa Timur), Celuk di Bali, Sumatra di Padang, Sulawesi di Kendari dan lain-lain.

Sentra sentra industri perak tersebut terus berkembang dan mengalami pemekaran. Sebagai contoh di Wonosari (DIY) sekarang banyak pengrajin perak yang dulunya belajar di Kotagede sekarang sudah mendirikan usaha sendiri di tempat mereka. Para pengrajin ini terus berkembang dan semakin maju dalam pemasaran maupun kualitas produksinya.

Meskipun di Indonesia terdapat beberapa sentra industri perak tetapi masing-masing sentra industri tersebut memiliki karakteristik sendiri-sendiri. Sebagai contoh Kotagede yang sangat terkenal dengan kualitas ukiran-ukiran peraknya. Ukiran-ukiran ini biasanya diaplikasikan untuk peralatan makan dari perak ataupun perhiasan-perhiasan yang besar. Motif ukiran di Kotagede biasanya bersumber dari motif bunga dan daun ataupun juga dari keraton Yogyakarta yang biasanya di setiap motif tersebut terdapat makna filosofis tertentu.

Untuk kerajinan perak di Bali sebenarnya juga mempunyai karakteristik disain tersendiri, akan tetapi dengan tingkat sosialisasi pengusaha perak di Bali dengan pengusaha asing yang sangat tinggi sekarang kerajinan perak di Bali bisa dikatakan yang paling mampu memenuhi selera pasar luar negeri. Mereka sering membuat disain-disain baru yang sangat indah sesuai dengan selera konsumen mereka yang berasal dari luar negeri.

Perak Bakar.
Masyarakat sering mendengar dan juga sering mengucapkan kata ini “ Perak Bakar ”. Jenis kerajinan perak ini berwarna hitam seperti bekas dibakar sehingga banyak orang menyebutnya perak bakar. Ini adalah salah kaprah yang ada di masyarakat kita. Bahkan orang asing pun  (orang Belanda) sering menyebutnya “ Gebrant Zilver ”, yang artinya juga perak bakar.

perak bakar4

Sebenarnya perak yang hitam itu bukan karena proses pembakaran melainkan sengaja dibuat hitam dengan campuran bahan kimia tertentu.
Mengenai tehnik finishing penghitaman mungkin akan saya bahas di buku yang lainnya. Jadi intinya semua jenis kerajinan perak baik yang hitam ataupun yang putih mengkilap mengalami proses pembakaran yaitu proses pemanasan ataupun pematrian sehingga di sini jelas sekali kalau proses pembakaran tidak ditujukan untuk membuat perak menjadi hitam. Berikut beberapa contoh produk perak yang dihitamkan dengan bahan kimia.

Jenis-jenis kerajinan perak berdasarkan cara pembuatan.

Jenis-jenis kerajinan perak berdasarkan cara pembuatan.

  • Perak buatan tangan (Handmade)
  • Perak buatan mesin (Machinery)
  • Perak cetakan (Casting)
  • Silver Clay

1. Perak buatan tangan.
Kerajinan perak ini murni dibuat dengan tangan , tanpa mengandalkan mesin. Dari proses awal hingga akhir dikerjakan dengan tangan. Kerajinan inilah yang merupakan cikal bakal industri perak di Kotagede Yogyakarta dan bahkan sampai sekarangpun kerajinan perak di Kotagede masih didominasi kerajinan buatan tangan (handmade).
Sebenarnya perak handmade ini berdasarkan materialnya masih bisa diklasifikasikan menjadi 2 macam yaitu:

  • Filigree
  • Solid Silver

a.    Perak Filigree atau yang di Kotagede sering dikenal dengan istilah perak Trap adalah jenis kerajinan perak yang bermaterial benang/kawat perak yang sangat lembut yang dipilin dan dipres/dibuat plat.

Benang-benang perak inilah yang digunakan untuk membuat motif atau dekorasi kerajinan perak.  Benang perak/filigree ini bukan hanya digunakan untuk membuat perhiasan/asesories saja, tapi juga digunakan untuk membuat bermacam-macam miniatur seperti miniatur becak, kereta kuda, harley davidson dan juga bermacam-macam hiasan dinding seperti hiasan motif wayang dan lain sebagainya.

Sampai sekarang perak filigree masih mempunyai tempat di hati penggemar perak karena jenis kerajinan inilah yang sampai sekarang belum bisa digantikan oleh mesin. Dengan kata lain kerajinan perak filigree inilah kerajinan perak yang benar-benar handmade (buatan tangan). Berikut beberapa contoh produk filigree/trap.

silver filigree1 silver filigree3
b.    Solid Silver. Kerajinan perak ini berbahan utama perak lempengan/lembaran perak. Material ini lebih fleksibel untuk dibentuk atau digunakan membuat kerajinan perak. Biasanya digunakan sebagai bahan utama untuk membuat perlengkapan makan dari perak seperti nampan, piring, mangkok dan lain sebagainya. Selain itu juga sering digunakan untuk membuat miniatur dan perhiasan-perhiasan.

solid silver1 solid silver6

2. Perak Cetakan.
Akhir-akhir ini perak cetakan sering dijadikan alternatif produksi kerajinan perak. Terutama untuk permintaan produk dengan kuantitas besar dan waktu yang terbatas. Sebenarnya sistem pembuatan perak cetak/casting ini ada beberapa tehnik. Dari yang menggunakan peralatan sederhana sampai penggunaan mesin casting sentrifugal yang lumayan mahal harganya. Dan biasanya produk perhiasan yang ada di pasaran dibuat denganmesin casting sentrifugal.

Secara umum cetakan di sini berarti prosesnya diawali dengan pencairan logam perak dan tembaga yang kemudian dituang ke cetakan yang telah disiapkan sebelumnya sesuai bentuk yang dinginkan. Sekali proses pencetakan dilakukan dengan mesin casting sentrifugal  bisa menghasilkan puluhan bahkan ratusan produk perak. Keuntungan dari sistem pembuatan cetak adalah penghematan waktu dan model yang dibuat bisa sama semua. Meskipun begitu proses akhir (finishing) dari proses perak cetakan ini masih menggunakan tangan di antaranya, pengikiran dan  pengamplasan bekas-bekas cetakan yang kurang rapi. Kendala utama dari produksi sistem cetak ini adalah harga mesin cetak yang mahal. Di Indonesia sendiri belum banyak pengusaha yang memiliki mesin casting sendiri. Berikut beberapa contoh produk perak cetakan.

gelang cetakan
gelang cetakan

3. Perak buatan Mesin.
Kerajinan perak dengan sistem produksi mesin juga merupakan sistem produksi massal seperti casting. Hanya saja di sini digunakan mesin sebagai ganti mesin casting.

Produk-produk yang dibuat dengan mesin biasanya adalah kalung dan gelang rantai. Sama  halnya dengan mesin casting, mesin pembuat perhiasan ini harganya juga cukup mahal. Di Indonesia kerajinan perak yang dibuat dengan mesin banyak berasal dari Jawa Timur.

Kawat Perak

Bagi yang gemar manik2 atau wire working alias nguwer2 kawat (istilah Mbak Yoana..) tentu sudah tidak asing lagi dengan kawat perak. Dulu waktu pertama kali mendapat pesanan dari yang suka nguwer2 kawat aku masih  bingung dengan nomor-nomor kawat yang dipesan. Mereka bilang “mas aku pesen no 18, 20 dan 22!”. Padahal kalau di Kotagede gak ada kawat dengan nomor 18, 20 dan 22. Terlalu kecil untuk diproses.

Usut punya usut ternyata standar ukuran yang digunakan berbeda. Dalam buku manik2 ataupun wire working standar pengukurannya disebut “GAUGE” sedangkan di Kotagede standar pengukuran yang digunakan berdasarkan satuan “MILIMETER”. Nomor yang ada menunjukkan diameter kawat dalam satuan milimeter. Sebagai contoh kawat nomor 80 artinya diameter kawat adalah 0,8 mm. Nomor 100 adalah kawat dengan diameter 1 mm dan seterusnya.

Perbedaannya 2 satuan pengukuran ini ternyata sangat signifikan. Untuk lebih jelasnya terlampir tabel konversi dari ukuran gauge ke milimeter.

konversi gauge ke milimeter

konversi gauge ke milimeter

Nomor yang sering dipesan adalah 20 dan 22 (satuan gauge) tetapi kalau aku sendiri yang sering aku buat (sering dipesan ma aku) adalah nomor 60, 80 dan 100. Nomor 60 (kecil) biasanya untuk hook anting, 80 untuk jump ring dan 100 untuk wire working.